Kamis, 25 Desember 2008

Peran Pria dalam Kehamilan


Info Lengkap agar Pria Lebih Berperan

Dukungan dan peran serta pria dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI. Jadi, tunggu apa lagi?
Keterlibatan Anda, para pria, sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok “manusia mungil” di dalam perutnya.
Bahkan, keikutsertaan pria secara aktif dalam masa kehamilan, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul “What Your Partner Might Need From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals & Clinics (tahun 2001), Amerika Serikat, keberhasilan istri Anda dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan keterlibatan Anda dalam masa-masa kehamilannya.

Trimester pertama: masa penuh gejolak emosi

Selama hamil, ada begitu banyak perubahan pada tubuh pasangan Anda, dan yang paling menonjol adalah perubahan keadaan emosinya. Apa sebabnya? Kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuhnya berubah. Tak mengherankan bila mood -nya berubah-ubah terus. Kalau sudah begini, siapa lagi, selain Anda, yang paling tepat untuk membantunya melalui masa-masa ini? Yang pasti, jangan merasa sebal kalau Anda harus terus-terusan standby untuk sewaktu-waktu “dipanggil” sebagai teman curhat, namun di lain waktu “dipanggil” sebagai “tukang pompa” semangatnya. Pintar-pintar atur peran saja!

Berikut beberapa hal yang bisa jadi “bekal” bagi Anda saat “berurusan” dengan pasangan.

Yang dialami pasangan:
• Sering mual-mual dan muntah, terutama pada pagi hari, karena dia mengalami morning sickness.
• Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk.
• Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang “aneh”. Misalnya, mengelus-elus perut buncit penjual daging di pasar atau makan rujak jam 2 pagi.
• Emosinya cepat sekali berubah. Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak menangis tersedu-sedu, merasa tertekan dan sedih, tanpa sebab yang jelas atau karena masalah sepele.

Yang dapat Anda lakukan:
• Bawakan krekers dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu dia bangun dan morning sickness mendera, keluhan yang dirasakannya langsung “hilang” berkat perhatian dan kasih sayang Anda.
• Buatlah pasangan merasa nyaman, sehingga dia dapat beristirahat dan cukup tidur. Misalnya, memutar lagu-lagu yang lembut.
• Bersiaplah menghadapi “ujian” untuk mengukur seberapa besar cinta Anda padanya. Jangan kaget bila dia menginginkan sesuatu yang “aneh” di tengah malam! Dia ‘ kan sedang ngidam ! Bila mampu, tak ada salahnya memenuhi permintaannya. Siapa tahu Anda “lulus ujian” dengan nilai cemerlang nantinya.
• Tunjukkan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan. Sapaan yang ekspresif terhadap si kecil, misalnya “Hallo, lagi ngapain di situ?” atau seruan “Woa…” sudah merupakan dukungan mental yang menyenangkan hati. Juga, ungkapkan perasaan cinta Anda padanya karena pada saat-saat seperti ini dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang Anda lebih dari biasanya.
Perubahan Fisik vs Gangguannya

Selain perubahan emosi yang meledak-ledak dan kerap membuat kaum pria “bingung”, ada sederet perubahan fisik yang juga terjadi pada tubuh sang istri tercinta dan juga gangguan yang mungkin timbul.

• Metabolisme tubuh meningkat antara 10-25%
• Detak jantung dan pernapasan bertambah cepat
• Dinding rahimnya menebal
• Payudara menjadi lebih sensitif, terutama sekitar puting dan areola (lingkaran berwarna hitam yang mengelilingi puting susu).


Pria Bisa Juga “Ngidam”

Gunawan (32 tahun), aktor kondang, sempat membuat supir pribadinya pusing tujuh keliling karena “dipaksa” berputar-putar ke seantero Jakarta malam-malam untuk hunting rujak, kripik singkong, dan asinan. Setelah berkeliling selama 2 jam di Cinere, barulah Gunawan berhasil mendapatkannya. Itu terjadi ketika sang istri, Sybilla Hartoto Hardikusumo alias Lala (27 tahun), tengah hamil satu bulan. Bagaimana dengan Lala sendiri? Ia justru merasa excited kalau melihat mobil dan berbagai aksesorisnya. Ternyata, hasil USG menunjukkan kalau bayinya adalah laki-laki. Pantas saja!
Benarkah pria bisa “ngidam” seperti yang dialami Gunawan? “Memang ada suami yang bisa merasakan mual-mual waktu istrinya hamil muda. Sebetulnya, itu hanya gejala psikologis dan pengaruh dari lingkungan saja. Namun, bisa juga itu merupakan ungkapan keinginan minta perhatian dan kasih sayang lebih banyak dari istrinya. Tidak ada penjelasannya secara ilmiah,” tutur dr. Lastiko Bramantyo, Sp.OG .

Trimester kedua: masa-masa bahagia

Inilah saatnya pasangan merasakan nikmatinya masa-masa kehamilan. Makanya, Anda tidak sebegitu “tersiksanya” ketimbang trimester lalu. Dan, mulai ikut merasakan gerakan janin mau tidak mau akan “menyentil” Anda kalau sekarang ini Anda baru bisa “benar-benar” merasakan peran baru Anda, sebagai calon ayah!

Yang dialami pasangan:
• Emosi cenderung lebih stabil dan keluhan morning sickness juga jauh berkurang.
• Si kecil sudah mulai “beraksi”.
• Merasa bahagia dengan kehamilannya sehingga lebih bersemangat melakukan latihan (olahraga ringan sesuai anjuran dokter) serta beraktivitas.
• Cukup nyaman dengan keadaannya, sehingga mulai timbul keinginan untuk menikmati hubungan seks.

Yang dapat Anda lakukan:
• Tetap menunjukkan kalau Anda mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang cepat serta perasaan lebih peka yang dialaminya, sebab ini wajar dan alami terjadi pada ibu hamil.
• Dampingi dan antarlah selalu pasangan setiap kali berkunjung ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.
• Dampingi dan berpartisipasilah secara aktif di kelas senam hamil (senam Lamaze) bersamanya.
• Ajaklah dia untuk kembali menikmati hubungan seks.


Perubahan Fisik vs Gangguannya

• Pertambahan berat badannya makin nyata
• Sering pegal-pegal
• Sakit punggung
• Lelah
• Kejang otot kaki
• Pinggang linu
• Kaki kram
• Kaki bengkak

3 Mitos Seks yang Salah Kaprah!

Bagaimanapun, kebutuhan biologis yang satu ini harus tetap tersalurkan. Anda ‘kan tak perlu jadi pastor pada saat-saat seperti ini. Tapi, mitos yang beredar membuat pria jadi ragu-ragu untuk mengajak pasangannya bermesraan.

• Seks berbahaya bagi janin
Salah. Aktivitas seks tidak menyakitkan maupun membahayakan janin. Bahkan, sekalipun Anda berdua melakukan gerakan-gerakan “panas” dan “heboh”, jabang bayi hanya akan terguncang-guncang sedikit dan tertidur lelap. Juga, tak perlu khawatir ujung penis Anda akan “menyodok” si jabang bayi. Dia tetap aman dan nyaman terlindung oleh kantung ketuban.

• Seks bahaya bagi “calon ayah”
Salah. Memang, posisi yang kerapkali dirasa “cukup aman” adalah Anda di bawah sementara pasangan di atas, agar perutnya tidak tertekan. Namun, kalau Anda merasa tidak “nyaman”, coba-coba saja posisi lain. Siapa tahu malah jadi lebih mengasyikkan!

• Seks menyebabkan kelahiran prematur
Salah. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan hal itu. Rangsangan yang Anda lakukan pada payudara istri memang akan memicu produksi hormon oksitosin, sehingga menyebabkan timbulnya kontraksi. Namun, ini baru bisa terjadi bila hari-H sudah dekat. Makanya, maju terus pantang mundur! Namun, bila aktivitas seks Anda berdua yang terlalu “panas” itu jadi memicu terjadinya kontraksi yang berlebihan, apa boleh buat, terpaksa Anda dan si “adik kecil Anda berpuasa “ dulu.


Trimester ketiga: takut dan cemas menghadapi hari-H

Masa ini merupakan masa-masa penantian yang “melelahkan”. “Perjalanan” menuju persalinan tinggal hitungan hari saja. Itu sebabnya, Anda akan lebih banyak berperan sebagai a shoulder to cry on.

Yang dialami pasangan:
• Semakin dekat dengan hari-H, biasanya dia merasa semakin takut dan cemas.
• Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisiknya.
• Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu, dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya, terutama pada punggung dan panggul, karena bayi sudah semakin besar dan sudah mulai menyiapkan diri untuk lahir.
• Mengeluh sulit tidur karena perutnya yang semakin membesar itu akan membuatnya tidak nyaman ketika berbaring.


Yang dapat Anda lakukan:
• Bantu pasangan untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan. Misalnya, dengan mengalihkan perhatiannya dengan cara mengajaknya berbelanja keperluan si kecil.
• Pujilah kalau dia tetap cantik dan menarik. Berbagai perubahan fisik tidak sedikitpun mengurangi kadar cinta Anda padanya.
• Bantulah meringankan berbagai keluhan. Misalnya, dengan memijat pegal-pegal di belakang tubuhnya.
• Bersiaplah untuk membantu dan menemaninya saat dia sulit tidur.

Perubahan Fisik vs Gangguannya

• Bengkak pada kaki dan tangan
• Sering sesak napas atau napasnya pendek akibat desakan janin yang kian membesar
• Membesarnya pembuluh darah balik pada dubur (wasir atau ambeien)

Jangan Lupa Siapkan Tas-tas Ini!

Sebulan sebelum hari-H, berbagai keperluan pasangan, si kecil, dan juga Anda sendiri, sudah mulai bisa dimasukkan ke dalam tas khusus. Letakkan tas-tas itu di tempat strategis, misalnya dekat pintu kamar, agar tidak ketinggalan.
Untuk Calon Ibu

Untuk Bayi
• 2 popok bayi
• Gurita bayi
• Blus
• Kaus tangan dan kaus kaki
• Topi
• Selimut

Untuk Anda
• 5 BH khusus menyusui
• 6 celana dalam
• 1 sackdress untuk pulang
• Sarung/kain batik untuk dipakai menunggu saat persalinan
• 3 gurita
• 2 handuk kecil (untuk menyeka keringat dan mengelap muka)
• 1 handuk mandi
• Sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi
• Sisir, kaca kecil, kosmetik
• 1 kotak pembalut wanita
• Sandal karet
• Buku bacaan
• Jam atau weker


Untuk Suami
• Baju dalam (celana dalam dan kaos dalam)
• T-shirt atau kaus
• Celana panjang
• Handuk
• Sikat dan pasta gigi
• Sisir
• Handphone dan charger
• Kamera atau handycam
• Daftar nama dan nomor telepon orang-orang yang bisa segera dihubungi


Tapi, perlu diingat bahwa proses kehamilan itu sendiri unik. Apa yang dialami oleh pasangan Anda, tidak akan sama persis dengan apa yang dialami oleh istri sahabat Anda, kakak perempuan Anda, atau nenek Anda ketika hamil. Kondisi tubuh setiap wanita berbeda-beda, sehingga reaksi dan perubahan tubuh pun lain. Apapun yang terjadi, bulatkan tekad Anda agar dapat “siap setiap saat” mendampingi istri tercinta melewati masa-masa ini.


Sri Lestariningsih
Konsultasi ilmiah: dr. Lastiko Bramantyo, Sp.OG, POGI Jaya, RS Ibu dan Anak Hermina, Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar